Learning Design Thinking from “Patch Adams” The Movie

Article

Selamat Tahun Baru 2018! Happy New Year 2018!

Ketika malam pergantian Tahun Baru mungkin rekan-rekan merayakannya ditempat-tempat pusat keramaian atau hanya sekedar di rumah menikmati film dan acara TV yang ada. Saya termasuk golongan yang kedua. Dan entah kebetulan atau tidak, saya menonton film “Patch Adams” di salah satu saluran TV kabel, sembari menikmati kudapan sebelum menghitung mundur penghabisan tahun 2017.

On New Year’s Eve eve may be many of you were celebrating in a crowd or just at home enjoying movies and TV shows. I belong to the second group. And whether it was a coincidence or not, I watched the movie “Patch Adams” on one of the cable TV channels, while enjoying the snack before counting back to 2017

Film yang diangkat kisah nyata semi biografi dan dibintangi oleh (alm) Robin Williams ini sudah beberapa kali saya tonton. Walaupun ini film lama (diputar pertama kali tahun 1998) saya tetap suka sekali menontonnya. Balutan tema dan ceritanya berlatar belakang dunia medis. Pas dengan aktivitas saya sekarang yang sedang mengerjakan sebuah start-up teknologi di bidang kesehatan, jadi sangat klop-lah ceritanya.

The film is a real story of semi-biography and starring (late) Robin Williams, and I have watched it several times. Even though it is an old movie (screened for the first time in 1998) I still love watching it. It’s containing the theme and story of the medical world. It fits with my current activities working on a start-up technology in the field of health, so the story matches.

(Bila ada rekan-rekan yang belum tahu kisah tentang Hunter Doherty “Patch” Adams, bisa baca di link berikut: read the story or article in this linkhttps://en.wikipedia.org/wiki/Patch_Adams_(film),https://en.wikipedia.org/wiki/Patch_Adams#Gesundheit.21_Institute)

Namun ketika menonton kembali film tersebut, saya baru sadari ada satu adegan diantara beberapa adegan lainnya yang sangat bagus sekali dipakai untuk menerangkan konsep tentang metode Design ThinkingDesign Thinking adalah salah satu agile method berbasis prilaku, kebiasaan dan kebutuhan manusia yang sedang populer di seluruh bagian dunia. Innovesia, sebuah firma rekanan yang saya dirikan bersama beberapa teman, adalah pelopor dan juga pemimpin dalam penerapan metode Design Thinking di Indonesia. Beberapa proyek Design Thinking yang sudah kami lakukan bisa dilihat di blog kami di www.designthinking.id

But when I watched the movie again, I realize that there is one scene among some other scenes that are very good to be used to explain the concept of Design Thinking method. Design Thinking is one of the human-centered and agile methods which now is taking a popularity and prominent in all parts of the world. Innovesia, a partnership firm that I founded with my friends, is a pioneer and also a leader in the application of Design Thinking methods in Indonesia. Some of our Design Thinking projects can be found on our blog at www.designthinking.id

Sekarang saya terangkan beberapa cuplikan dari adegan tersebut untuk menerangkan konsep Design Thinking:

Now I am going to describe some of the footage from the scene to explain about Design Thinking concept

1. EMPATHIZE: Melihat, mendengar, merasakan dan memahami apa kesulitan / penderitaan yang dialami oleh pasien (customer). / See, hear, feel, understand Patients (customers) pains

Dalam adegan ini, Patch Adams berada di sebuah Rumah Sakit setelah melayat salah satu kenalannya. Kemudian dia menyaksikan ada seorang ibu yang sedang histeris dan menangis didepan meja administrasi. Rupanya anak perempuan ibu tersebut mengalami kecelakaan dan sedang koma, dan sang ibu diminta untuk mengisi formulir agar segera mendapatkan perawatan untuk anaknya. Patch Adams heran mengapa disaat genting sang Ibu tetap harus diminta untuk mengisi formulir.

In this scene, Patch Adams is in a hospital after mourning one of his acquaintances. Then he witnessed a mother who was hysterical and crying in front of the administration desk. Apparently, the mother’s daughter had an accident and was in a coma, and the mother was asked to fill out a form to get immediate treatment for her child. Patch Adams wonder why the mom still needs to fill out the form while in an emergency situation.

Kemudian adegan berpindah ke sebuah warung makan ala America (Diner), dimana Patch Adams bersama rekan sekampusnya sedang berbincang mengenai kejadian yang dilihat oleh Patch Adams di RS. Para pengunjung warung tersebut dan juga pelayannya menanggapi perbincangan Patch Adams dengan rekannya.

Then the scene moves to an American diner, where Patch Adams and his colleague are talking about what Patch Adams saw in the hospital. The visitors of the diner, as well as the waitress, jumped into Patch Adams’s conversation with her partner.

Patch Adams mencoba mendengarkan dan mengamati apa saja keluhan yang diutarakan oleh mereka. Si Pelayan mengatakan bahwa dia pernah disuruh pulang dan kembali lagi ke RS pada saat sedang gawat darurat mengalami sakit usus buntu, hanya karena lupa membawa kartu asuransi kesehatannya! Kemudian beberapa bapak-bapak juga ikut nimbrung dan mengatakan bahwa biaya pengobatan yang mereka dapatkan sangat mahal sekali, dan ada yang membayar mahal hanya untuk mengetahui bahwa kakinya hanya terkilir! Jelas sekali penderitaan dan kesulitan yang pernah dialami mereka sebagai pasien.

Patch Adams tries to listen and observe what complaints are expressed by them. The waiter said that she had been sent home and returned to the hospital at the time of emergency sickness of appendicitis, just because she forgot to bring his health insurance card! Then some men also joined in the conversation and said that the medical expenses they got were very expensive, and some were paying only to know that their legs were just sprains! Obviously, the pains and difficulties they had experienced as patients.

2. DEFINE: merumuskan pokok permasalahan / defining the problem

Mereka akhirnya berdiskusi dimana sebenarnya pokok permasalahannya. Rekannya mengatakan bahwa memang itu merupakan prosedur yang harus ditaati di RS sesuai peraturan agar menjaga keselamatan pasien dan semua pihak. Walaupun ada juga hal-hal prosedural yang diminta oleh pihak asuransi kesehatan seperti mengisi formulir dan lainnya, sehingga agak menyulitkan pasien.

They end up discussing where the issue really is. His colleague said that indeed it is a procedure that must be adhered to in the hospital according to the rules to safeguard the safety of patients and all parties. Although there are also procedural issues requested by the health insurance such as filling out forms and others, so it is rather difficult for patients.

3. IDEATE: memikirkan apa yang bisa dilakukan dengan menelurkan ide-ide serta solusi yang bisa ditawarkan / think about solution and generate ideas to be proposed

Setelah itu dia berpikir apa sebenarnya pokok permasalahan dari setiap keluhan yang telah diutarakan oleh para pengunjung yang notabene adalah pasien juga. Terbesit sebuah pertanyaan apa yang bisa dilakukan untuk membantu para pasien. Disini secara tidak langsung Patch Adams memikirkan sebuah kalimat pertanyaan kunci “Bagaimana kita dapat (how might we)…” sebagai pancingan untuk menghasilkan ide-ide.

After that, he thinks what is the real issue of every complaint that has been expressed by the visitors who incidentally is a patient as well. It is a question of what can be done to help patients. Here indirectly Patch Adams thinks of a key question phrase “How we might …” as an inducement to generate ideas.

4. PROTOTYPE: Membuat purwarupa (prototype) sebagai visualisasi akan ide yang terbesit/ creating prototype as a visualization of an idea

Lalu Patch Adams mengambil sebuah kotak pemanggang roti yang ada didepannya. Dia tambahkan dengan sebuah corong kecil berwarna merah. Segera dia mengeluarkan kacamata-hidung badut miliknya dan memasangkannya ke panggangan roti. Sekilas tampak benda tersebut menyerupai sebuah badut. Rekannya bertanya-tanya apa maksudnya itu? Patch Adams tersenyum, dia terlihat antusias akan ide yang telah diperlihatkannya.

Then Patch Adams picked up a box of toasters in front of him. He adds a small red mouthpiece. Suddenly he took out his sunglasses-his clown’s nose and attached it to the toaster. At a first glance, it looks like a clown. His colleague wondered what he meant? Patch Adams smiled, he looked enthusiastic about the idea he had shown.

5. TEST: Melakukan test dan menyempurnakan purwarupa (prototype) / test and iterate the prototype

Dengan purwarupa yang baru dibuat, Patch Adams segera menemui rekan kerjanya yang lain untuk mendapatkan masukan yang lebih banyak. Dia menjelaskan apa maksud dari purwarupa tersebut, yang merupakan bagian dari sebuah ide besar: Rumah Sakit gratis yang membebaskan pasien dari beban mengisi formulir. Ditambahkan fasilitas bermain, hiburan dan menggunakan humor dan candaan agar para pasien bisa melupakan rasa sakitnya dan mempercepat proses penyembuhan serta menghilangkan penderitaan. Sebuah Rumah Sakit dimana Dokter dan Pasien bekerja beriringan. Mimpinya adalah seluruh orang akan bersatu dalam komunitas yang sehat dan bahagia.

With the newly created prototype, Patch Adams immediately goes to meet other colleagues to get more input. He explained what the prototype meant, which is part of a big idea: a free hospital that frees patients from the burden of filling out forms. Added play facilities, entertainment and use humor and jokes so that patients can forget the pain and speed up the healing process and eliminate suffering. A Hospital where Doctors and Patients work hand in hand. His dream is that all people will unite in a healthy and happy community.

Langsung dipercepat ke akhir cerita, kita ketahui Patch Adams berhasil mendirikan Klinik perawatannya sendiri dengan metode yang unik dan sangat menghibur. Walaupun sempat ditentang oleh beberapa pihak medis namun banyak pasien yang datang untuk mencari perawatan alternatif. Di tempat perawatannya menerima para sukarelawan dari seluruh dunia yang ingin membantu pasien yang membutuhkan teman untuk menghibur, memberikan ketabahan dan menyemangati agar cepat sembuh.

Fast forward to the end of the story, we know Patch Adams successfully established his own care clinic with a unique method and very entertaining. Although it was opposed by some medical parties many patients came to seek alternative treatments. In the treatment center, volunteers from all over the world want to help patients who need friends to cheer up, give them courage and encourage them to get well.

Dari cuplikan-cuplikan adegan diatas, seperti itulah langkah-langkah yang dilakukan dalam Design Thinking. Setiap Design Thinker akan selalu berusahan menempatkan dirinya disisi pasien/ pelanggan, atau setiap orang yang menjadi pusat perhatian kita. Kemudian kita merumuskan permasalahan dan memikirkan solusi yang bisa ditawarkan. Langkah selanjutnya membuat purwarupa dari ide atau solusi agar semua orang bisa mengerti apa yang akan ditawarkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.

From the above scene footage, that’s how the steps are done in Design Thinking. Every Design Thinker will always try to place him/herself on the side of the patient/customer, or everyone who is the center of our attention. Then we define the problem and think about the solution that can be offered. The next step is to make prototypes of ideas or solutions so that everyone can understand what will be offered to overcome the problems faced.

Kira-kira begitulah penjelasan yang singkat tentang metode Design Thinking melalui sebuah cerita yang menyentuh dari film Patch Adams. Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi kepada rekan-rekan. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Design Thinking atau Human-Centered atau metode-metode penggalian inovasi lainnya, jangan sungkan menghubungi saya di openinnovation@innovesia.co.id

It’s about a brief explanation of Design Thinking methods through a touching story from the Patch Adams movie. Hopefully, this article can provide inspiration to colleagues. If you would like to know more about Design Thinking or Human-Centered or other innovation excavation methods, please feel free to contact me at openinnovation@innovesia.co.id

Selamat menghasilkan inovasi yang hebat di tahun 2018! Happy creating great innovations in 2018!

Article
Agile Fundamental for DBS Kampus Merdeka

In line with the Ministry of Education and Culture Program – Kampus Merdeka, DBS, and Innovesia collaborated to organize a workshop specifically designed for DBS interns. In this workshop, Agile concepts and practices are introduced to those who take part in the internship program as part of the Merdeka Campus …

Article
Business Acumen Essential with Nusantara Regas

Business landscape is changing faster than ever, be it from the demand from the market as well as the rising numbers of new competitors. Hence, it is crucial to always improve strategies for employees. Over the course of two month, Nusantara Regas equipped their team members with mindset-changing workshops with …

Article
7 Must-Have Mindsets for Innovator: Design Thinking Mindsets

In an uncertain situation like today, we need to adapt to the situation. In adapting, continuous innovation is needed. Design thinking is well known as a magic process for innovation. This method is arguably the most attractive way to describe a model for innovation based on human-centered observation and prototyping. …